Tuesday, March 16, 2010

Gayeng Semarang (Suara Merdeka): PAGUYUBAN


Kulanuwun. Begitu saya mendarat di Bandara Internasional Kansai di Jepang, sudah ada beberapa pesan singkat masuk di ponsel saya. Tapi yang paling dapat perhatian saya ada dua. Yang satu dari Prof. Retmono, menanyakan apakah betul minggu ini giliran saya tampil di rubrik Gayeng Semarang. Yang kedua dari Mas Triyanto yang mengingatkan bahwa saya mesti segera kirim naskah Gayeng Semarang. Memang sangat menarik yang namanya paguyuban, kekerabatan, persaudaraan, kemitraan, atau Gemeinschaft.

Tidak seperti polah tingkah para pemimpin kita di puncak kekuasaan yang sampai sekarang masih saja saling tohok-menohol, jatuh menjatuhkan, leceh melecehkan, ancam-mengancam. Dan caranya itu lo, yang amat sangat tidak santun, nenek moyang kita menyebutnya “ora nJawani”.

Kita kan sudah dapat warisan pesan yang selalu saja dikutip orang “Digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake”. Pesan lain: “Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti,” “Ana catur mungkur, ana bapang den simpangi”. Kurang lebih arti dari semua itu adalah sakti tanpa senjata; menyerang tanpa gerombolan; menang tanpa merendahkan; kemarahan akan terhapus oleh kesabaran; ada sengketa kita mundur; ada halangan kita hindari. Dan lain lain.

La sekarang ini para mahasiswa saja kok ya ikut-ikutan sampai melempari batu, bambu, kayu pada aparat. Padahal dalam pewayangan, mesti ada dialog dulu. “Siapa namamu? Dari mana asalmu? Apa maumu?”

Sesudah itu baru mulai dengan perkelahiannya. Jadi tidak ujug-ujug lantas main keroyokan.

* * *

Dsari mas Iqbal saya dapat tips, berupa doa-doa yang puitis juga lewat ponsel: “Apabila aku kesepian, hiburlan aku dengan merdu suara dan candamu. Apabila aku sakit, obatilah aku dengan putih kasih sayang dan cintamu. Apabila aku dipanggilkan Tuhan, mandikanlah aku dengan bening air mata dan lirih tangismu. Apabila aku dikuburkan, kuburlah juga aku dalam tulus hati dan jiwamu. Dan supaya aku tidak tersesat di dunia maupun akhirat, ingatkanlah serta selamatkanlah aku dengan kekhusukan zikir dan doa-doamu.”

Wah, bila setiap pemimpin memberi contoh dengan saling doa-mendokana seperti itu, alangkah damai, tenang dan nyamannya hidup ini. Pasti juga akan dicontoh oleh anak-cucu kita, yang dalam pendidikannya pun sudah ditanamkan sikap bahwa kita semua bersaudara. Salah satu pilar pendidikan menurut UNESCO adalah “Learning to live together”. Jadi bukan sekadar learning to know, to do, to be.

Waktu saya bicara dalam Seminar Pendidikan di Pati, di depan ratusan guru-guru SD, SLTP, SLTA, saya bahkan menambahkan satu pilar lagi yaitu “Learning to love each other”, alias belajar saling mencintai. Cinta pada keluarga, saudara, teman, kampus, kampung, bangsa, negara, dan agama.

Mereka yang sudah mapan, mbok yao memikirkan nasib mereka yang masih rawan.

Dalam suatu perjalanan darat dari Semarang ke Purwokerto saya sempat membaca tulisan besar – besar di bagian belakang bak truk: “MANGKAT PUSING, ORA MANGKAT APA MANING”. Berangkat pusing, apalagi kalau tidak berangkat. Sedangkan yang namanya John Fitzgerald Kennedy, Presiden Amerika Serikat, ketika ditanya kenapa dia senang dari presiden, dengan amat jujur dia menjawab: “Bayarannya amat baik dan bisa jalan kaki dari dari rumah ke kantor.” Kelihatan betul beda nasib rakyat dengan presidennya.

* * *

Sesama penjaga rubrik Gayeng Semarang pun, yang bikin kita semua betah, nyaman, enjoy, adalah karena rasa paguyuban yang amat kental. Kita sering bertukar dan berkirim kabar. Prof. Abu Suud, misalnya, setiap kali mengingatkan untuk qiyamul lail, tahajud. Kemarin baru saja saya terima pesan bahwa di dunia ini banyak ketidakpastian. Bahkan ilmu pasti pun sering tidak pasti. Katanya kalau hasil perkalian lebih besar dari sekadar pertambahan. Tapi kalau satu kali satu kok hasilnya lebih sedikit dari satu tambah satu. Dua kali dua kok cuma sama dengan dua tambah dua. Sembilan tambah satu kok lebih besar ketimbang sembilan kali satu. Beliau menyimpulkan “La wong ilmu pasti saja gak pasti, kemana lagi kita cari kebenaran, kalau tidak lewat agama?”

Weladalah, pemikiran sehebat itu kok tidak ditulis di kolom Gayeng Semarang yang notabene beliau sendiri ikut mengasuh ya? Itulah semangat paguyuban yang sungguh amat mulia bila disebarluaskan. Ibarat pemain depan yang sudah berhadapan langsung dengan kiper di gawang lawan, tidak kok terus menembakkan bola ke gawang (karena pasti tidak masuk), tetapi dengan rela dioper ke kawannya (yang lebih memungkinkan untuk mencetak gol).

Liding dongeng, marilah kita mengelola apa pun yang menjadi bidang tugas kita, dengan semangat paguyuban. Jangan sekali-kali mengelola dengan semangat permusuhan, yang tidak akan menyenangkan segenap pihak.

Sakmanten rumiyin atur kula, kepareng, nuwun.

1 comment:

  1. Meskipun Prof. Eko Berpulang, Semarang harus tetap Gayeng. Monggo, sinten nggih ingkang badhe nggentosi?

    ReplyDelete