Tuesday, March 3, 2009

Vastenburg Jati Diri Kota Solo

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
Benteng Vastenburg dilihat dari ketinggian, Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Walau merupakan saksi sejarah perkembangan Kota Solo, Benteng yang dibuat pada tahun 1745 oleh Baron Van Imhoff kondisinya memprihatinkan, selain sudah milik perseorangan, di areal benteng tersebut rencananya akan dibangun hotel oleh pemiliknya.
Kompas Cetak
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/19/00464390/vastenburg.jati.diri.kota.solo
Kamis, 19 Februari 2009 | 00:46 WIB

Benteng Vastenburg di Kota Solo, Jawa Tengah, adalah jati diri Kota Solo yang harus dilestarikan. Sejarah kelam di balik benteng peninggalan Belanda (1755) ini akan menjadi pelajaran bagi generasi mendatang karena keberadaannya menjadi simbol benteng terakhir nasionalisme.

Pendapat itu mengemuka dalam acara dialog publik bertema ”Cagar Budaya untuk Publik” yang diadakan dalam rangka hari jadi ke-264 Kota Solo di Balaikota Solo, Selasa (17/2).

Sebagai narasumber adalah Prof Eko Budihardjo dari Universitas Diponegoro, Semarang; Marco Kusumawijaya, Ketua Dewan Kesenian Jakarta; Widya Wijayanti, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia; Haryo Sasongko, Direktur Perkotaan Departemen Dalam Negeri; dan Gutomo, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah.

Dialog publik tersebut mendapat sambutan antusias dari peserta yang mewakili warga kampung di Solo.

Polemik tentang Benteng Vastenburg muncul sejak November 2008 ketika ”pemilik” benteng berencana mau membangun hotel bertingkat 13 dan mal di atas situs yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Tukar guling

Pada tahun 1991, benteng seluas 5,4 hektar ini oleh TNI ditukargulingkan dengan pihak swasta dan kini dikapling- kapling di delapan instansi berbeda.

Eko Budihardjo memaparkan, sebuah kota adalah karya seni sosial sekaligus ”panggung kenangan” yang menyimpan memori seluruh warganya.

”Menghilangkan memori tadi merupakan dosa besar,” ujar Eko. Ia menambahkan, Benteng Vastenburg mampu menjelaskan bahwa kota ini pada masa lalu mengalami penjajahan Belanda, maka benteng itu sebenarnya merupakan jati diri sejarah Kota Solo.

Eko bersama Prof Sidharta pada tahun 1987 diminta oleh PT Benteng Perkasa Utama untuk membuat rancangan tata bangunan di atas situs benteng. Namun, hasil rancangannya ditolak pihak investor.

Menurut dia, Vastenburg memiliki akar kultural. Karena itu, sesuai pedoman Bank Dunia, upaya penyelamatannya dinilai strategis mengingat keberadaannya bisa menjadi modal sosial yang besar.

Ali Syaifullah dari Komunitas Peduli Cagar Budaya Nusantara (KPCBN) menegaskan, Vastenburg harus dikembalikan kepada negara.

”Di dalam benteng tersebut prajurit-prajurit kita pernah dipenjara, disiksa, dan dibunuh. Justru dari benteng inilah anak cucu kita bisa belajar tentang sejarah bangsa kita yang kelam. Kalau benteng ini sampai lepas dan menjadi hotel atau yang lain, kita akan kehilangan sejarah tersebut. Maka, benteng ini jelas merupakan simbol nasionalisme dan patriotisme kita yang terakhir,” ujarnya.

Ali minta agar dilakukan rekonstruksi terhadap Benteng Vastenburg dengan tujuan mengembalikan bangunan-bangunan yang pernah ada, seperti kantor, penjara, gudang amunisi, dan tangsi.

Namun, Sitta Laretna Adhisakti, moderator diskusi, menyatakan sulit melakukan rekonstruksi mengingat minimnya data. Ia mengatakan, etika arsitektur serta Piagam Kyoto 1994 melarang rekonstruksi yang tidak sesuai dengan aslinya.

Gutomo dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala menyebutkan bahwa benteng tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi karena itu pemanfaatannya kembali harus memerhatikan pesan sejarah yang bisa diakses oleh publik.

Namun, data tentang arsitektur bangunan tersebut tidak akurat. Bahkan, benteng tersebut hanya menyisakan bangunan pagar tembok luar.

”Kalaupun kita mau memanfaatkan sekarang, ibaratnya hanya tinggal kulitnya saja,” katanya. (ASA)

Geger Benteng Vastenburg

SUARA MERDEKA - Wacana
http://www.suaramerdeka.com/

04 Maret 2009

Oleh Eko Budihardjo


Agar bisa diperoleh karya cipta arsitektur yang menjadi landmark atau tengeran sebagai jati diri sejarah Kota Surakarta yang baru, kiranya akan lebih baik bila diselenggarakan Sayembara Perancangan Kawasan Benteng Vastenburg.

DALAM Dialog Publik tentang Benteng Vastenburg yang diselenggarakan di Balai Kota Surakarta atas prakarsa Wali Kota Joko Wi beberapa waktu lalu, tampak ada dua kubu yang cenderung berseberangan pendapat secara frontal. Kubu pertama adalah yang menyetujui pembangunan mal dan hotel bertingkat tiga belas (konon kemudian lantas turun menjadi 9 lantai).

Adapun kubu kedua adalah yang menolak keras pembangunan mal dan hotel. Mereka ini menuntut agar Benteng Vastenburg direkonstruksi persis seperti bentuk semula. Bahkan dengan amat keras meminta supaya benteng kuno yang didirikan oleh Belanda pada 1745 itu dikembalikan menjadi milik negara. Kalau perlu lapangan terbuka di dalam benteng dibiarkan saja tetap sebagai taman. Terasa gonjang-ganjing dan geger pro dan kontra ini bisa berkepanjangan.

Saya tidak memihak salah satu dari kedua kubu yang sama-sama ekstrem itu. Orang bijak berpesan arif: Virtus est in medio. Maknanya, segala sesuatu yang baik ada di tengah-tengah. Ekstrem kanan jelek, ekstrem kiri berbahaya. Poros tengah menjadi salah satu alternatif jalan keluar dengan segala kelebihan dan kekurangan. Jika alternatif pertama berupa bangunan bertingkat tinggi, baik 13 lantai maupun 9 lantai, yang dipilih untuk dilaksanakan, saya dan segenap arsitek yang peduli bangunan kuno amat sangat berkeberatan.

Skala bangunan tinggi komersial itu pasti akan mengerdilkan benteng bersejarah yang tidak terlalu tinggi dan notabene masih berdiri kokoh, kendati kurang terawat. Nanti hotel itu akan tampak seperti sumpit yang menjulang dari dalam benteng (baca tulisan saya tentang ”Sindrom Sumpit” Perkotaan, Kompas, 28 Februari 2009). Sangat tidak menciptakan harmoni dan menunjukkan sikap arogan, tidak menghargai keberadaan bangunan kuno bersejarah yang termasuk kategori cagar budaya.

Sebaliknya, jika yang dipilih alternatif kedua, yaitu membeli kembali benteng yang sudah dimiliki pihak swasta melalui proses ruilslag atau tukar guling, pasti Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta tidak akan kuat menyokong dana. Konon diperkirakan akan membutuhkan dana sekitar 600 miliar rupiah.
Belum lagi kalau harus menanggung biaya rekonstruksi dan biaya pemeliharaan selanjutnya.

Tuntutan dari kubu kedua, yang muncul dari kecintaan luar biasa pada monumen jatidiri sejarah Kota Surakarta memang bisa dipahami. Namun tidak realistis, bahkan nyaris utopis. Sangat berat untuk tidak mengatakan mustahil, mengimplementasikannya. Juga terasa tidak adil jika Pemkot atau Wali Kota Surakarta harus menanggung beban atas proses tukar guling yang sudah berlangsung beberapa dekade sebelumnya, oleh pihak-pihak di luar kompetensi dirinya.

Alternatif Penyelamatan

Manakala alternatif dari kubu pertama dinilai melanggar Undang-Undang Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, dan alternatif dari kubu kedua dinilai tidak rasional, lantas bagaimana alternatif penyelamatan Benteng Vastenburg yang bisa disodorkan sebagai jalan keluar?

Terus terang, kurang lebih dua puluh tahun silam, saya bersama alamarhum Prof Sidharta pernah diminta merancang kawasan Benteng Vastenburg dengan prinsip pemberian fungsi baru untuk kawasan bersejarah dan bangunan tua. Istilah gagahnya ”new function for historic district and old building”. Adapula, yang menggunakan terminologi lebih singkat dan bernas: ”Adaptive Reuse”.
Contoh-contoh dari mancanegara sudah cukup banyak.

Penjara kuno di kawasan kota tua ”The Rocks” di Sydney yang dimanfaatkan untuk fungsi baru berupa pertokoan, pub, kafe, restoran, pusat hiburan, dan permainan kanak-kanak. Bekas istana pangeran atau kastil di London yang berubah fungsi menjadi pusat perbelanjaan.

Bahkan ada contoh perubahan fungsi yang amat ekstrem di Istanbul, yaitu Masjid Haghia (Aya) Sophia. Dulu bangunan itu adalah gereja dan sat ini telah berubah lagi menjadi museum. Jadi fungsi bisa berubah-ubah, tetapi bangunan kuno tetap bertahan.

Alternatif yang kami usulkan sekitar 1980-an untuk fungsi baru di lapangan dalam Benteng Vastenburg berupa serangkaian komposisi bangunan-bangunan bertingkat dua dan tiga. Fungsinya beraneka ragam.

Ada toko-toko cendera mata; kios-kios untuk jual-beli keris, tombak, pedang kuno; tempat promosi dan berjualan batik atau lurik, berikut selop sampai mondolan; panggung pergelaran seni-budaya; pusat informasi wisata; gardu-gardu istirahat terbuka atau open air cafe; dan lain-lain.

Diusulkan juga agar ada akses naik ke atas dinding benteng, agar pengunjung bisa bebas menikmati pemandangan di dalam maupun ke luar benteng. View ke arah keraton Kasunanan akan menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi jika meriam kuno yang ditempatkan secara amat strategis mengarah ke keraton itu dipasang kembali.

Betapa bangga kita di hadapan anak-cucu, mengisahkan kehebatan persenjataan Belanda dengan meriam dan kanon yang modern itu terbukti tidak berdaya melumpuhkan para pahlawan kita, yang hanya bersenjatakan bambu runcing.

Sayang seribu sayang, usulan kami yang mencoba untuk sekaligus menyelamatkan atau menjaga kelestarian benteng dan pada saat yang sama juga menghidupkan kegiatan ekonomi kreatif rakyat bernuansa budaya lokal, tidak diapresiasi oleh pemberi tugas. Sang pengusaha terus-menerus meminta supaya bangunan-bangunannya dipadatkan, dirapatkan, dijejal-jejalkan.

Kekesalan dan kesebalan memuncak ketika muncul perrmintaan agar dinding benteng yang kokoh selebar dua sampai tiga meter itu disisakan satu meter saja. Maksudnya untuk bisa lebih banyak lagi menyediakan kios-kios pertokoan. Hubungan kami dengan pengusaha itu pun lantas putus, karena tidak tercapai kata sepakat. Dan kita mesti sama-sama maklum, karena memang ”mindset” masing-masing sejak awal sudah beda.

Sayembara Perancangan

Dalam Economic Benefits for Preserving Old Buildings (1995) dikemukakan bangunan-bangunan kuno bersejarah yang sering terabaikan itu memiliki banyak potensi untuk didayagunakan agar bisa menghasilkan keuntungan ekonomi.

Pertama, lokasinya yang amat strategis, mudah dicapai dari segenap penjuru kota. Kedua, jaringan prasarana atau utilitas publiknya sudah tersedia, misalnya listrik, air bersih, telepon, dan pembuangan air kotor. Ketiga, konstruksi bangunannya biasanya masih kokoh, kuat, tahan untuk jangka waktu lama.

Keempat, peluang untuk diberi fungsi baru sesuai tuntutan perkembangan zaman, masih terbuka lebar. Kelima, perkembangan teknologi mutakhir yang canggih memungkinkan para arsitek menggugah imajinasi sebebas mungkin menciptakan karya ”arsitektur cap jempol” atau ”signature architecture” yang mengesankan.

Kelima butir potensi itu seyogianya menjadi landasan berpijak untuk mengatasi gonjang-ganjing tentang nasib benteng itu. Agar bisa diperoleh karya cipta arsitektur yang menjadi landmark atau tengeran sebagai jatidiri sejarah Kota Surakarta yang baru, kiranya akan lebih baik bila diselenggarakan Sayembara Perancangan Kawasan Benteng Vastenburg.

Sayembara tersebut sedapat mungkin berskala nasional, atau bahkan kalau perlu internasional, mengingat Kota Surakarta sudah masuk dalam jejaring global sebagai kota pusaka (heritage city) bersejarah.

Tantangan ini mesti dijawab dengan gegap gempita oleh para arsitek, seniman, dan budayawan, mengingat pesan bahwa ”Architecture is archeology of the future”. Generasi masa kini mesti bisa menciptakan karya-karya arsitektur baru, modern dan pascamodern, yang separo abad kemudian layak ditetapkan sebagai karya arkeologi atau cagar budaya untuk juga ikut dilestarikan. Alangkah indahnya. (35)

–– Prof Ir H Eko Budihardjo MSc, guru besar Arsitektur dan Perkotaan Undip dan ketua Forum Keluarga Kalpataru Lestari (Fokkal)

Thursday, February 26, 2009

Biodata

Jabatan:
1. Guru Besar Arsitektur dan Perkotaan Fakultas Teknik UNDIP
2. Ketua Badan Penyantun Dewan Kesenian Jawa Tengah
3. Ketua Pembina YPSDM Forum Rektor Indonesi
4. Ketua Ikatan Alumni Lemhanas (IKAL) Jawa Tengah
5. Ketua Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang

Riwayat Pendidikan
1. Lemhanas, Kursus Reguler Angkatan XXVII, dengan predikat sebagi LULUSAN TERBAIK dan memperoleh penghargaan SEROJA WIBAWA NUGRAHA, 1994.
2. Pendidikan Pasca sarjana: Master of Science in Town Planning, University of Wales Institute of Science and Technology, Cardiff, Inggris 1976-1978
3. Pendidikan sarjana: Sarjana Arsitektur Fakultas Teknik UGM Yogyakrta, 1962-1969
4. Pendidikan Dasar dan Menengah
SLTA: SMA Negeri II/B, Purwokerto, 1959-1962 SLTP: SMP Negeri II, Purwokerto, 1956-1959 SD/SR: SD Negeri II/B, Purwokerto, 1950-1956

Kursus-kursus:
1. Housing in Developing Countries, Institute for Housing Studies, Rotterdam, 1985
2. Research Management, Denver Research Institute, 1993
3. Intensive English Course, IKIP Yogyakarta, 1976 (Skor TOEFL 560)

Riwayat pekerjaan/jabatan struktural
1. Rektor UniversitasDiponegoro, 1998-2006 (2 periode)
2. Dekan Fakultas Teknik Undip, 1992-1998 (2 periode)
3. Pembantu Dekan I, FT Undip, 1986-1989
4. Ketua Jurusan FT Undip, 1986-1989
5. Kepala Biro Penelitian FT Undip, 1978-1986
6. Tugas Belajar ke Inggris, 1976-1978
7. Kepala Biro Bangunan Undip, 1973-1976
8. Sekretaris Jurusan Arsitektur, FT Undip 1971-1973



Riwayat pekerjaan
1. Sebagai Ketua/Ketua Kehormatan/Direktur/Presiden/Pimpinan Umum/Wakil Ketua/Ketua Forum/Ketua Dewan
a. Ketua Forum Keluarga Kalpataru Lestari (FOKKAL) 2007-sekarang
b. Ketua Dewan Penasehat Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), 2007-sekarang
c. Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Lemhanas Pusat, 2006-sekarang
d. Ketua Dewan Pembina YPSDM Forum Rektor Indonesia, 2003-sekarang
e. Ketua Ikatan Alumni Lemhanas Jawa TEngah, 2003-sekarang
f. Ketua Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Regional II, 2005-sekarang
g. Ketua Yayasan GRIS, 2001-sekarang
h. Ketua Dewan Pembina, Dewan Harian Daerah 45 Jawa TEngah, 2000-sekarang
i. Ketua Dewan Pakar Masyarakat Agrobisnis dan Agroindustri Indonesia, 1999-sekarang
j. Ketua Dewan Etik Local Legislative Watch Semarang, 1999-sekrang
k. Ketua Dewan Penasehat Parliament Watch Indonesia (PARWI) Jateng, 1999-sekarang
l. Ketua Badan Pertimbangan, Dewan Riset Daerah Jawa Tengah, 1998-2002
m. Ketua Pakar ICMI Orwil Jawa Tengah, 1998-2001
n. Ketua Dewan Yayasan Sivitas Akademika, 1998-2006
o. Ketua Dewan Pembina Persatuan Sarjana Arsitektur Indonesia Pusat, 1996-2002
p. Direktur Eksekutif Lembaga Riset Konsultasi dan Pengembangan, 1996-sekarang
q. Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), 1994-sekarang (4 periode)
r. Ketua Dewan Penasehat Arsitektur dan Pembangunan Perkotaan, 1994-sekarang (3 periode) s. Direktur Environmental Protection, Rotary Club Semarang, 1993-sekarang
t. Presiden Rotary Club Semarang, 1993-1994
u. Pemimpin Umum Koran Kampus Manunggal, 1992-1996
v. Ketua Kehormatan Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) cabang Jateng, 1990-1996
w. Pemimpin Redaksi Majalah Teknik, 1990-1992
x. Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) cabang Jawa Tengah, 1986-1990
y. Direktur Lembaga Studi Pembangunan Daerah, 1998-sekarang


2. Sebagai Anggota/anggota Dewan/Majelis/Forum
a. Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) 2008-sekarang
b. Anggota Dewan Penyantun KONI Daerah Jawa Tengah 2002-sekarang
c. Anggota Komnas Habitat, Jakarta, 2001-sekarang
d. Anggota Dewan Penasehat Yayasan Economic Law and Global Studies Center (ELGSC), 2001-sekarang
e. Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Jawa Tengah, 2006-sekarang
f. Promotor, Co-promotor, external examiner (penguji eksternal) program Pasca Sarjana (S2) dan program doktor di UNDIP, UGM, IPB, UNHAS
g. Anggota Senat Universitas Muhammadiyah Jakarta, 2000-sekarang
h. Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Yogyakarta, 1998-sekarang
i. Anggota Dewan Pertimbangan Seruling Mas Semarang, 1998-sekarang
j. Anggota Majelis Kode Etik Ikatan Ahli Perencana (IAP) Pusat Jakarta, 1996-sekarang
k. Anggota Pendiri Urban and Regional Development (URD) Jakarta, 1996-sekarang
l. Anggota Pokja Sosial Budaya Lemhanas, 1995-sekarang
m. Anggota Dewan Kehormatan Ilmiah Undip, 1995-1998
n. Anggota Dewan Riset Nasional, Jakarta 1994-1999
o. Anggota Dewan Pembina Ikatan Ahli Perencana (IAP) Pusat, Jakarta 1994-sekarang
p. Anggota Forum Pakar, Dinas Tata Kota DKI Jakarta, 1993-1996
q. Anggota Dewan Pengawas RS Dr. Karyadi Semarang, 2001-2006
r. Anggota Majelis Arsitek, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Pusat Jakarta, 1992-1998


3. Sebagai Penasehat Paguyuban Putera-Puteri Guru Jawa Tengah, 2007 - sekarang
b. SOSKI Jawa Tengah, 2006-sekarang
c. Asosiasi Konsultan Pembangunan Permukiman Indonesia (AKPI) cabang Jawa Tengah, 2001-sekarang
d. Lembaga Visioner Indonesia (VISINDO), 2001-sekarang
e. Yayasan Lembaga Konsumen Jasa Konstruksi Indonesia, 2001-sekarang
f. Ahli Jurnal Lingkungan (Environmental Journal), 2000-sekarang
g. Wayang Orang Ngesti Pandowo Semarang
h. PGRI Jawa Tengah, 1999-sekarang
i. Yayasan Tanah Air Semarang, 1998-sekarang
j. Asosiasi Biro Reklame Semarang, 1996-sekarang
k. Paguyuban Haji Ar-Raudhah Semarang, 1996-sekarang
l. Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) cabang Jateng, 1994-sekarang
m. Persatuan Insinyur Indonesia (PII) cabang Jateng, 1992-sekarang
n. Yayasan Pendidikan Anak-Anak Cacat (YPAC) Semarang, 1998-2003
o. Yayasan bakti Karya (YABAKA) Semarang, 1986-sekarang
















Keanggotaan Profesional dalam Badan Internasional
a. Member, Southeast Asia-Taiwan University President Forum, 2006-2007
b. Council member, Eastern Regional Organization on Planning Housing (EAROPH), Malaysia 1992-1997
c. Council member, Habitat International Coalition, Mexico, 1989-1994
d. Member, Research Board of Advisor American Biographycal Institute USA, 1995-sekarang
e. Member, National Trust of Historic Preservation USA
f. Member, International Federation on Housing and Planning (IFHP) Netherlands, 1990-sekarang
g. Member, International Association of University Presidents (IAUP) 2003-2006
h. Member, Association of Universities of Asia Pacifi (AUAP) 2003-2006

Penghargaan yang pernah diterima
a. 2006: Lentera Award dari Forum Wartawan Peduli Pendidikan Semarang (FORWARDS): Orang Terbeken di Semarang dari LSM Semarang
b. 2004: Satya Lencana Karya Satya 30 Tahun dari Presiden RI
c. 2001: Penghargaan dari Walikota Semarang sebagai Pakar Peduli Kota Semarang
d. 2000: Penghargaan sebagai Tokoh Pendidikan dan Kebudayaan dari Insan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Jateng
e. 1999: Penghargaan sebagai Pembina Seni dari Mendikbud RI: Penghargaan sebagai Pendidik Berprestasi dari yayasan PWI Jateng
f. 1998: Kalpataru sebagai Pembina Lingkungan dari Meneg Lingkungan Hidup RI
g. 1997: Adhikarya Pariwisata dari Menparpostel RI
h. 1996: Adhicipta Rekayasa dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII)
i. 1995: Bintang Emas Budaya dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa, Surakarta
j. 1994: Seroja Wiwaha Nugraha dari Presiden RI: Satya Lencana Karya Satya 20 tahun dari Presiden RI
k. 1993: Man of the Year, dari Harian Suara Merdeka Semarang
l. 1992: Distinguished Leadership Award for Outstanding Achievement in Architecture Planning and Housing dari the American Biographical Institute, USA
m. 1991: Penghargaan dengan Pujian dari Ikatan Arsitek Indonesian. 1989: Upanyasa Bhakti Upapradana dari Gubernur Jawa Tengaho. 1981: Dosen Teladan Universitas Diponegoro

Catatan lain
Memperoleh gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) dari Mangkunegara IX, karena kiprah dalam kegiatan budaya dan pelestarian warisan bersejarah.
1. KOMPAS memasukkannya dalam kategori Cendikiawan Kampus dan Peneliti Lapangan sebagai salah seorang "Pribadi Pembuka Cakrawala"
2. Selain itu juga memperoleh penghargaan lain seperti "Citra Indonesia Award" (1999), Tokoh Cendikiawan Berprestasi (1995), dan semacamnya.

Penerbitan buku
2006: Bangun Pondasi Undip Menuju Universitas Riset, Penerbit Humas Undip
: Sejumlah Masalah Permukiman Kota, Cetakan ke-5, Penerbit Alumni Bandung
2004: Gergeran Democrazy, Penerbit Suara Merdeka Semarang
: Mengalir dengan Cinta, Penerbit Patriot Semarang
: Arsitektur dan Kota di Indonesia, Cetakan ke-5, Penerbit Alumni Bandung
2000: Gayeng Semarang (bersama Prof. Satjipto Rahardjo dan Prof. DR. Abu Su'ud), penerbit Suara Merdeka Semarang
1999: Etika Keilmuan dan Hak atas Kekayaan Intelektual Badan, Penerbit Undip Semarang
1998: Kota yang Berkelanjutan, UI Press Jakarta, kemudian dilanjutkan Penerbit Alumni Bandung pada tahun 1999
1997: Preservation and Conservation of Cultural Heritage in Indonesia, penerbit Gama Press Yogyakarta
: Arsitektur sebagai Warisan Budaya, Penerbit Djambatan, Jakarta
: Tata Ruang Perkotaan, Penerbit Alumni Bandung
: Arsitektur Indonesia: Menyongsong asa Depan, penerbit Andi, Yogyakarta
: Perkembangan Arsitektur dan Pendidikan, Arsitektur di Indonesia, penerbit Gama Press, Yogyakarta
: Arsitektur: Pembangunan dan Konservasi, Penerbit Djambatan, Jakarta
1995: Semarang, Beeld Van Een Stad (co-author), Asia Maior, Purmerend, Netherlands.
1994: Pendekatan Sistem dalam Tata Ruang, Penerbit Gama Press Yogyakarta
1993: Jati Diri Arsitektur Indonesia, Penerbit Alumni Bandung
1990 Analis Statistik Perumahan, Biro Pusat Statistik, Jakarta
1989: Konservasi Lingkungan Bersejarah di Surakarta, penerbit Gama Press Yogyakarta
1988: Analisa Statistik Sektor Konstruksi, Biro Pusat Statistik Jakarta
1987: Percikan Masalah Arsitektur, Perumahan, Perkotaan, Penerbit Gama Press Yogyakarta
1984: Architectural Conservation in Bali, penerbit Gama Press, Yogyakarta
1983: Menuju Arsitektur Indonesia, penerbit Alumni Bandung: Arsitektur dan Kota di Indonesia, penerbit Alumni Bandung

Tulisan yang disunting dalam buku
2005: Maha Duka Aceh, Antologi Puisi, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Yasin, Jakarta
2004: Konflik dalam Penataan Ruang, dalam buku "Konstruksi Indonesia" Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, Jakarta
2000: Bung Karno,Arsitek-Seniman, dalam buku "Dialog dengan Sejarah", penerbit Kompas, Jakarta
1998: Pengelolaan Pemerintah Perkotaan, dalam buku "Menuju Indonesia Baru", penerbit Persatuan Insinyur Indonesia Jakarta

Makalah Ilmiah/Scientific PaperMenyajikan lebih dari 500 (lima ratus) makalah ilmiah dalam forum lokakarya/diskusi/kongres/konferensi/sarasehan di dalam maupun luar negeri.